Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya dan Contoh Nyata yang Mudah Dipahami

Table of Contents
Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya

Jenis iklan berdasarkan tujuannya umumnya dibagi menjadi 5, yaitu iklan informatif, persuasif, reminder (pengingat), komersial, dan non-komersial (layanan masyarakat).

Perbedaannya ada pada tujuan utama iklan tersebut dibuat apakah untuk memberi informasi, membujuk, mengingatkan, atau sekadar edukasi tanpa tujuan profit.

Dari pengalaman saya menjalankan beberapa campaign digital (terutama di Meta Ads dan Google Ads), kesalahan paling umum justru bukan di desain atau budget melainkan salah memilih jenis iklan. 

Banyak brand langsung “jualan keras”, padahal audiensnya belum kenal produk sama sekali. Hasilnya? CTR rendah, conversion jeblok.

Pengertian Iklan Berdasarkan Tujuannya

Secara sederhana, iklan berdasarkan tujuan adalah cara mengelompokkan iklan berdasarkan apa yang ingin dicapai oleh pembuatnya.

Bukan soal medianya (TV, sosial media, dll), tapi lebih ke:
  • Apa yang ingin dilakukan ke audiens?
  • Memberi tahu?
  • Mempengaruhi?
  • Atau hanya mengingatkan?
Dalam praktik marketing, ini sangat berkaitan dengan customer journey:
  • Awareness (kenal)
  • Consideration (mempertimbangkan)
  • Conversion (membeli)
Dan di sinilah jenis iklan mulai berperan.

Berikut Jenis-Jenis Iklan Berdasarkan Tujuannya 

1. Iklan Informatif

Saya sering menggunakan jenis ini saat launching produk baru. Tujuan utama untuk memberikan informasi kepada audiens tentang produk, layanan, atau brand.

Ciri-ciri:
  • Tidak terlalu “jualan”
  • Fokus menjelaskan manfaat atau fitur
  • Bahasa cenderung netral
Contoh:

Contoh Iklan Informatif

Insight dari pengalaman saya, saat saya langsung pakai iklan persuasif untuk produk baru, hasilnya buruk. 

Tapi setelah saya ubah jadi konten edukasi (iklan informatif), engagement naik signifikan. Artinya orang tidak bisa membeli sesuatu yang belum mereka pahami.

2. Iklan Persuasif

Kalau audiens sudah kenal, barulah saya berani “gas” ke iklan jenis ini.

Tujuan utama untuk membujuk audiens agar melakukan tindakan (beli, daftar, klik).

Ciri-ciri:
  • Ada call-to-action (CTA)
  • Menonjolkan keunggulan
  • Sering pakai urgency (diskon, limited time)
Contoh:

Contoh Iklan Persuasif

Analisis pribadi. Di salah satu campaign, saya tes dua versi:
  • Versi edukasi (informatif)
  • Versi promo langsung (persuasif)
Hasilnya?
  • Informatif: CTR tinggi, conversion rendah
  • Persuasif: CTR lebih kecil, tapi conversion jauh lebih tinggi
Jadi, persuasif cocok untuk fase decision, bukan awareness.

3. Iklan Reminder

Ini sering diremehkan, padahal dampaknya besar untuk brand jangka panjang.

Tujuan utama untuk mengingatkan audiens tentang keberadaan brand.

Ciri-ciri:
  • Sederhana
  • Tidak menjelaskan banyak
  • Fokus pada brand recall
Contoh:

Contoh Iklan Reminder

Pengalaman saya pernah berhenti menjalankan iklan reminder karena ingin hemat budget. Dalam 2 bulan, traffic brand turun drastis.

Setelah iklan reminder diaktifkan lagi, awareness langsung naik. Kesimpulan out of sight = out of mind.

4. Iklan Komersial

Ini adalah jenis iklan yang paling umum. Tujuan utama untuk menghasilkan penjualan atau keuntungan.

Ciri-ciri:
  • Fokus pada produk/jasa
  • Biasanya mengandung elemen persuasif
  • Langsung ke point
Contoh:

Contoh Iklan Komersial


Catatan penting, iklan komersial bukan berarti selalu “hard selling”. Bisa saja dikombinasikan dengan informatif atau persuasif.

5. Iklan Non-Komersial

Jenis ini sering kita lihat, tapi jarang disadari kategorinya. Tujuan utama untuk edukasi atau perubahan perilaku sosial.

Ciri-ciri
  • Tidak menjual produk
  • Bersifat sosial atau edukatif
Contoh:

Contoh Iklan Non-Komersial

Meskipun tidak menghasilkan uang langsung, jenis iklan ini punya dampak besar pada persepsi publik.

Studi Kasus Satu Brand, Tiga Jenis Iklan

Saya pernah mengelola campaign untuk produk fashion lokal. Strateginya seperti ini:

Tahap awal (Informatif)

Konten: edukasi bahan, kualitas, keunikan produk
→ Tujuan: bikin orang kenal

Tahap tengah (Persuasif)

Konten: diskon + testimoni
→ Tujuan: dorong pembelian

Tahap akhir (Reminder)

Konten: branding ringan
→ Tujuan: tetap diingat

Hasilnya? Conversion naik hampir 2x dibanding saat saya hanya pakai iklan persuasif dari awal. Pelajaran pentingnya adalah jenis iklan harus mengikuti fase audiens, bukan ego brand.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

Dari yang saya lihat (dan pernah saya lakukan sendiri), ini beberapa kesalahan fatal:
  • Langsung jualan tanpa edukasi
  • Tidak memahami target market
  • Menggunakan satu jenis iklan untuk semua situasi
  • Tidak menyesuaikan dengan funnel marketing
Kalau kamu merasa iklan “tidak perform”, besar kemungkinan masalahnya ada di sini.

Tips Memilih Jenis Iklan yang Tepat

Supaya lebih praktis, ini cara saya menentukan jenis iklan:

Tanya: 

Audiens saya sudah kenal belum?
  • Belum → pakai informatif
  • Sudah → lanjut persuasif
Apakah brand sudah kuat?
  • Ya → tambahkan reminder
  • Tidak → fokus edukasi dulu
Apa tujuan campaign?
  • Awareness → informatif
  • Conversion → persuasif
  • Retensi → reminder
Sederhana, tapi ini yang paling sering dilupakan.

Butuh Bantuan Menjalankan Iklan yang Tepat?

Kalau kamu merasa sudah paham teorinya tapi masih bingung eksekusinya, itu wajar.

Di titik ini, biasanya saya sarankan untuk menggunakan Jasa Iklan Facebook Ads Murah Tertarget agar strategi yang dijalankan tidak sekadar coba-coba, tapi benar-benar berbasis data dan funnel yang jelas.

Dengan pendekatan yang tepat, kamu bisa:
  • Menyesuaikan jenis iklan dengan target audience
  • Menghemat budget (tidak “bakar uang”)
  • Meningkatkan conversion secara konsisten
Jenis-jenis iklan berdasarkan tujuannya bukan sekadar teori marketing ini fondasi strategi yang menentukan hasil campaign.

Post a Comment